oleh

LEGENDA CERITA SANGKURIANG : ASAL GUNUNG TANGKUBAN PERAHU

-Cerita Rakyat-654 dilihat

Cerita Sangkuriang – cerita ini merupakan salah satu dari sekian banyak dongeng atau legenda indonesia yang selalu diceritakan secara turun temurun oleh masyarakat. Sangkuriang sendiri berasal dari Jawa Barat tepatnya di daerah Bandung.

Cerita ini baik untuk dibawakan saat menemani sang anak di kala riang ataupun dongeng sebelum tidur. Karena cerita Sangkuriang ini ringan dan mudah dimengerti oleh anak-anak sekaligus mengenalkan sejarah dan kebudayaan yang ada di Indonesia.

Alur Cerita Sangkuriang Dan Asal Gunung Tangkuban Perahu

1. Dongeng Sangkuriang Lengkap

Pada zaman dahulu kala, ada seekor babi tengah melintas di sebuah hutan belantara. Babi hutan itu sedang merasa kehausan di tengah panasnya terik matahari. Lalu, dia melihat ada air yang tertampung di pelepah pohon.

Segera diminumnya air itu untuk melepas dahaga. Namun, ternyata air itu adalah air seni Raja Sungging Perbangkara. Karena kesaktian Raja Sungging Perbangkara, babi hutan itu pun mengandung setelah meminum air seni sang raja. Sembilan bulan kemudian, si babi hutan melahirkan seorang bayi manusia yang berkelamin perempuan.

Sang raja pun mengetahuin perihal kelahiran anak tersebut dan segera pergi ke hutan untuk mencarinya lalu dibawa ke kerajaan dan memberinya nama “Dayang Sumbi”.

Dayang Sumbi tumbuh menjadi perempuan yang sangat cantik wajahnya, sehingga banyak pria yang ingin menikahinya. Namun, semua itu ditolak Dayang Sumbi dengan halus. Mereka yang ditolak kemudian saling berperang satu sama lain untuk memperebutkan Dayang Sumbi.

Dayang Sumbi sangat bersedih mengetahui kenyataan tersebut. Dia pun memohon kepada Raja Sungging Perbangkara untuk mengasingkan diri. Sang raja akhirnya mengizinkan anaknya tersebut untuk mengasingkan diri. Dayang Sumbi mengasingkan diri di sebuah bukit dan ditemani oleh seekor anjing jantan bernama si Tumang. Untuk mengisi waktu luangnya selama dalam pengasingan, Dayang Sumbi pun menenun.

Alkisah, ketika Dayang Sumbi sedang menenun, peralatan tenunannya terjatuh. Ketika itu, Dayang Sumbi merasa malas untuk mengambilnya. Terlontarlah ucapan yang tidak terlalu disadarinya.” Siapapun juga yang bersedia mengambilkan peralatan tenunku yang terjatuh, seandainya itu lelaki akan kujadikan suami, jika dia perempuan dia akan kujadikan saudara.”

Tak disangka si Tumang mengambil peralatan tenun yang terjatuh itu dan memberikannya kepada Dayang Sumbi.

Tidak ada yang dapat diperbuat Dayang Sumbi selain memenuhi ucapannya. Dia menikah dengan si Tumang yang ternyata merupakan titisan dewa. Si Tumang adalah dewa yang dikutuk menjadi hewan dan dibuang ke bumi. Beberapa bulan setelah menikah, Dayang Sumbi pun mengandung dan melahirkan seorang bayi laki-laki dan memberinya nama Sangkuriang.

Sangkuriang tumbuh menjadi seorang pemuda yang tampan dan gagah. Sejak kecil Sangkuriang telah senang berburu. Setiap kali melakukan perburuan di hutan, Sangkuriang selalu ditemani oleh si Tumang. Ia sama sekali tidak mengetahui bahwa si Tumang adalah ayah kandungnya.

Kala itu, Sangkuriang sedang berburu di hutan bersama si Tumang. Sangkuriang berniat mencari kijang karena ibunya sangat ingin memakan hati kijang. Tiba-tiba, Sangkuriang melihat seekor kijang yang tengah merumput di balik semak belukar. Sangkuriang memerintahkan si Tumang untuk mengejar kijang itu, namun si Tumang yang biasanya penurut, ketika itu tidak menuruti perintahnya. Sangkuriang menjadi marah. Dan berkata ” Jika engkau tetap tidak menuruti perintahku, maka aku akan mebunuhmu.”

Ancaman Sangkuriang seakan tidak dipedulikan si Tumang. Karena jengkel dan marah, Sangkuriang lantas membunuh si Tumang. Hati anjing itu diambilnya dan dibawanya pulang ke rumah. Sangkuriang memberikan hati si Tumang kepada ibunya untuk dimasak.

Dayang Sumbi tidak tahu bahwa hati yang diberikan anaknya adalah hati suaminya. Dia kemudian memasak dan memakan hati itu. Maka, tak terperikan amarah Dayang Sumbi kepada Sangkuriang ketika dia tahu hati yang dimakannya adalah hati si Tumang. Dia lalu mengambil gayung yang terbuat dari tempurung kelapa dan memukul kepala Sangkuriang, hingga kepala Sangkuriang terluka.

Sangkuriang sangat marah dan sakit hati dengan perlakuan ibunya itu. Menurutnya, Ibunya lebih menyayangi si Tumang dibandingkan dirinya. Maka, tanpa pamit kepada ibunya, Sangkuriang lantas pergi mengembara ke arah timur.

Dayang Sumbi sangat menyesal setelah mengetahui anaknya telah pergi. Dia pun bertapa dan memohon ampun kepada para dewa atas kesalahannya. Para dewa mendengar permintaan Dayang Sumbi, mereka menerima permintaan maaf itu dan mengaruniakan Dayang Sumbi kecantikan abadi.

Ketika pergi mengembara, Sangkuriang terus menambah kesaktiannya dengan berguru kepada orang-orang sakti yang ditemuinya selama pengembaraan. Bertahun-tahun Sangkuriang mengembara tanpa disadari dia kembali ke tempat dimana dia dahulu dilahirkan.

Mereka dipertemukan Kembali di Hutan. Namun, tidak saling mengenal satu sama lain, Sangkuriang pun terpesona dengan kecantikan Dayang Sumbi yang mana adalah ibunya sendiri.

Begitupun Dayang Sumbi, dia tidak menyadari bahwa pria gagah tersebut adalah anaknya sendiri. Karena saling jatuh cinta mereka berencana untuk menikah.

Sebelum pernikahan dilangsungkan, Sangkuriang berniat untuk berburu. Dayang Sumbi membantu Sangkuriang mengenakan penutup kepala. Ketika itulah Dayang Sumbi melihat luka di kepala calon suaminya.

Teringatlah dia pada anak lelakinya yang telah meninggalkannya. Dia sangat yakin pemuda gagah itu tidak lain adalah Sangkuriang anaknya.

Dayang Sumbi kemudian menjelaskan bahwa dia sesungguhnya adalah ibu kandung dari Sangkuriang. Oleh karena itu, dia tidak bersedia menikah dengan anak kandungnya tersebut.

Namun, Sangkuriang yang telah dibutakan oleh hawa nafsu tidak perduli dengan penjelasan Dayang Sumbi, dia tetap bersikeras akan menikahi Dayang Sumbi.

Jika memang begitu kuat keinginanmu untuk menikahiku, aku mau engkau memenuhi satu permintaanku” kata Dayang Sumbi

Apa permintaan yang engkau kehendaki.” tantang Sangkuriang.

Dayang Sumbi mengajukan syarat yang sangat berat yaitu dia ingin sungai citarum dibendung untuk dibuat danau dan di dalam danau itu ada perahu besar. ”Semua syarat itu harus dapat engkau selesaikan dalam waktu satu malam sebelum pagi tiba.” ucap Dayang Sumbi.

Tanpa ragu Sangkuriang menyanggupi permintaan dari Dayang Sumbi, ” Baiklah, aku akan memenuhi permintaanmu.”

Sangkuriang segera bekerja mewujudkan permintaan Dayang sumbi. Dia segera menebang pohon besar untuk dijadikan perahu. Cabang dan ranting pohon yang tidak dibutuhkannya ditumpukan.

Tumpukan cabang dan ranting pohon itu kemudian berubah menjadi Gunung Burangrang. Begitu pula akar pohon itu kemudian berubah menjadi sebuah gunung yang bernama Gunung Bukit Tunggul.

Perahu besar itu akhirnya selesai dibuat Sangkuriang. Pemuda Sakti itu lantas berniat membendung aliran sungai Citarum yang deras untuk dibuat sebuah danau. Sangkuriang kemudian memanggil para makhluk halus untuk membantunya mewujudkan permintaan Dayang sumbi.

Semua yang dilakukan Sangkuriang diketahui oleh Dayang Sumbi. Dayang Sumbi mulai cemas ketika melihat permintaannya hampir terpenuhi.

Dia berusaha menggagalkan pekerjaan Sangkuriang agar pernikahan dengan anak kandungnya itu tidak terjadi. Dia pun memohon pertolongan dari para Dewa.

Setelah berdoa, Dayang Sumbi mendapatkan petunjuk. Dayang Sumbi lantas mengibaskan selendangnya. Dia juga memkasa ayam jantan berkokok di saat waktu masih malam.

Para makhluk halus sangat ketakutan ketika mengetahui fajar telah tiba. Mereka berlari dan menghilang begitu saja. Mereka meninggalkan pekerjaannya yang belum terselesaikan.

Sangkuriang sangat marah. Dia merasa Dayang Sumbi telah berlaku curang kepadanya dan sangat yakin jika fajar sesungguhnya belum tiba. Sehingga dia merasa masih tersedia waktu baginya untuk menyelesaikan pekerjaannya.

Dengan emosi tinggi, Sangkuriang lantas menjebol bendungan di Sanghyang Tikoro. Sumbat aliran citarum lantas dilemparkannya ke arah timur yang kemudian menjelma menjadi Gunung Manglayang.

Air yang semula memenuhi danau itu pun menjadi surut. Serasa belum reda kemarahannya, Sangkuriang lantas menendang perahu besar yang telah dibuatnya hingga terlempar jauh dan jatuh tertelungkup.

Perahu besar itu berubah menjadi sebuah gunung yang kemudian disebut gunung Tangkuban Perahu.

Namun, kemarahan Sangkuriang belum reda juga. Dia mengetahui semua itu sesungguhnya adalah siasat dari Dayang Sumbi untuk menggagalkan pernikahan dengannya.

Dengan kemarahan yang terus meluap, Dayang Sumbi pun dikejarnya. Dayang Sumbi yang ketakutan terus berlari untuk menghindar hingga akhirnya menghilang di sebuah bukit.

Bukit itu kemudian menjelma menjadi Gunung Putri, sedangkan Sangkuriang yang tidak berhasil menemukan Dayang Sumbi akhirnya menghilang ke alam gaib.

2. Tokoh Cerita Sangkuriang

tokoh

  1. Babi Hutan = Hewan yang melahirkan Dayang Sumbi setelah meminum kencing Raja Sungging.
  2. Raja Sungging Perbangkara = Raja yang memiliki kesaktian luar biasa.
  3. Dayang Sumbi = Wanita cantik yang lahir dari seekor babi hutan dan ingin dinikahi oleh anaknya sendiri.
  4. Tumang = Seekor anjing peliharaan Dayang Sumbi sekaligus suami dan ayah dari Sangkuriang.
  5. Sangkuriang = Pemuda gagah nan sakti sekaligus anak dari Dayang Sumbi yang ingin menikahi ibunya sendiri.

3. Sangkuriang Berasal Dari Jawa Barat

asal

Cerita Sangkuriang tepatnya berlatar di daerah Bandung, Jawa Barat. Itulah mengapa banyak orang menyebut bahwa legenda tersebut berasal dari etnis Sunda.

Karena masyarakat Bandung yang bermayoritaskan etnis Sunda. Kisah Sangkuriang ini menggambarkan tentang asal mulanya Danau Bandung, Gunung Tangkuban Perahu, Gunung Burangrang dan Gunung Bukit Tunggul.

Pada legenda tersebut juga menggambarkan bahwa sejak zaman dahulu etnis Sunda dominan bertempat tinggal di daerah sekitar pegunungan atau dataran tinggi.

4. Pesan Moral

pesan moral

Pesan moral yang dapat diambil dari cerita Sangkuriang adalah:

  • Jangan berbohong kepada orang tua demi membuatnya senang.
  • Jangan keras kepala dan mudah marah hingga lupa diri.
  • Belajar untuk tahan emosi dan bersabar.
  • Jangan mengikuti hawa nafsu karena akan membawa kita pada keburukan.
  • Tidak boleh berbuat curang.

5. Kesimpulan

cerita sangkuriang singkat

Cerita Sangkuriang merupakan salah satu cerita rakyat yang berasal dari kebudayaan Sunda tepatnya di daerah Bandung, Jawa Barat. Menceritakan tentang kisah seorang putri cantik yang menikah dengan seekor anjing peliharaannya sendiri karena terlanjur mengucap janji yang keluar dari mulutnya.

Kemudian memiliki seorang anak gagah dan sakti mandraguna bernama Sangkuriang. Namun, anak tersebut berbohong karena telah membunuh ayahnya sendiri lalu pergi dari rumah untuk mengembara.

Setelah bertahun-tahun berkelana, Sangkuriang kembali ke daerah asalnya dan bertemu dengan seorang wanita cantik yang tidak lain adalah ibunya sendiri hingga ia pun jatuh cinta dan berencana untuk menikah.

Tetapi Dayang Sumbi tidak mau dan bersihkeras menolak sampai memberikan syarat yang mustahil kepada Sangkuriang jika ingin menikahinya.

Syarat tersebut ialah membendung Sungai Citarum dan membuat perahu besar serta harus diselesaikan sebelum matahari terbit.

Sangkuriang pun gagal memenuhi syarat tersebut sehingga dipenuhi dengan amarah yang meluap, lantas ia menjebol bendungan yang telah ia bangun dan menendang perahu besar yang telah ia buat hingga terlempar jauh dan jatuh tertelungkup.

Kemudian perahu tersebut berubah menjadi sebuah gunung yang kini dikenal dengan nama Gunung Tangkuban Perahu.

Lebih lengkapnya, simak versi video berikut ini:

Untuk membaca cerita rakyat menarik lainnya teman-teman bisa kunjungi bahasaindonesia.org dan juga dapat menambah wawasan seputar bahasa Indonesia yang dibahas secara lengkap dan mudah dimengerti.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *