oleh

Majas Perbandingan – Macam dan Contohnya

Majas Perbandingan – Majas merupakan bahasa figuratif yang digunakan untuk menyampaikan pesan secara imajinatif dan dengan menggunakan bahasa kiasan. Hal tersebut bertujuan untuk membuat pembaca mendapat efek tertentu yang cenderung kea rah emosional. Majas sering disebut juga gaya bahasa.

Namun, sebenarnya majas termasuk salah satu dari jenis gaya bahasa. Ciri khas dari majas ialah terletak pada pemilihan kata-katanya yang secara tidak langsung menyatakan makna yang sebenarnya. Setiap yang ingin disampaikan melalui majas memiliki maksud tersendiri karena di dalam majas terdapat banyak jenisnya.

Majas diklasifikasikan menjadi empat jenis, yaitu majas perbandingan, majas pertentangan, majas sindiran, dan majas penegasan. Dari klasifikasi jenis-jenis majas tersebut terbagi lagi menjadi beberapa macam majas. Salah satu jenis majas yang familiar ialah majas perbandingan.

Majas perbandingan adalah majas yang maknanya merujuk pada arah yang berlawanan dari arti yang sebenarnya atau yang memunculkan perbandingan di dalamnya. Hal tersebut bertujuan untuk memberikan kesan atau pengaruh tertentu bagi pendengar atau pembaca.

Ciri dari majas tersebut ialah terdapat hal yang diperbandingkan, baik secara tersurat maupun tersirat. Berikut yang termasuk macam-macam majas perbandingan:

Macam-macam Majas Perbandingan

1. Majas Personifikasi

Majas personifikasi adalah majas yang menyamakan atau membandingkan benda mati menjadi bergerak atau bernapas atau bersikap seperti manusia.

Contoh:

a. Pohon bambu di belakang rumah berbisik-bisik tertiup angin sore.

b. Setiap pagi alarm gawai bernyanyi membangunkanku dari kesiangan.

c. Mobil pemadam kebakaran maraung-raung memecah keheningan pagi.

d. Matahari bersinar terik terasa menggigit seluruh kulit tanganku.

e. Bumi memangku semua bentuk kehidupan tanpa pilih kasih

f. Kursi roda itu berjalan ke mana pun membawa pemiliknya saat pemiliknya menginginkannya.

g. Bingkisan kado itu menggelitik tanganku agar segera membukanya.

 

2. Majas Depersonofikasi

Majas depersonifikasi adalah kebalikan dari majas personifikasi, yaitu majas yang mengungkapkan proses atau kegiatan manusia yang disifatkan kepada hewan atau benda non-manusia.

Contoh:

a. Dia sudah melunak setelah bukit-bukit kejahatannya terungkap.

b. Sikapnya sudah berubah, kini tampak lebih membaur dengan yang lain.

c. Hatinya mencair setelah menyadari kesalahan yang dilakukannya telah membuat banyak orang kecewa.

d. Dia tetap saja mematung, padahal polisi sudah berusaha keras mengintrogasinya.

e. Bila engkau bunga, akulah yang jadi kumbangnya.

f. Hatinya tetap membatu, padahal semua orang sudah berusaha menasihatinya.

g. Orang-orang di desaku tampak menyemut saat hiburan dangdut Haji Rhoma Irama digelar di lapangan desa.

 

3. Majas Metafora

Majas metafora adalah majas yang digunakan sebagai kiasan yang secara eksplisit mewakili suatu maksud lain yang berdasarkan pada persamaan atau perbandingan. Majas ini diungkapkan secara singkat, padat, dan tersusun rapi.

Ciri dari majas ini ialah menggunakan kata kiasan dan terdapat diksi yang menyamakan sesuatu dengan sesuatu yang lainnya.

a. Perasaanmu sejernih embun pagi.

b. Dewi malam telah keluar dari balik awan.

c. Raja siang telah terbit di pagi hari yang indah.

d. Ibu itu memeluk sang buah hatinya.

e. Si jago merah sudah melalap pasar ini sejak satu jam lalu.

f. Pemuda itu adalah tulang punggung keluarganya.

g. Tikus kantor hanya bisa menghabiskan uang negara.

 

4. Majas Asosiasi

Majas asosiasi ialah majas yang digunakan untuk membandingkan dua objek yang berbeda. Namun, majas ini disamakan dengan menambahkan kata sambung bagaikan, bak, laksana, ibarat, dan juga.

Contoh:

a. Dengan makin banyak swalayan modern di pedesaan, nasib warung kelontong bagaikan telur di ujung tanduk.

b. Niat tanpa tindakan nyata, ibarat sayur tanpa garam.

c. Mencari orang hilang di Jakarta seperti mencari jarum di tumpukan jerami.

d. Keindahan alam Indonesia bak surga dunia, wajar saja banyak yang ingin berlibur ke sini.

e. Aku sudah tidak tahan lagi, suaranya bagai kaset kusut.

f. Wajahnya cantik bercahaya laksana rembulan di pertengahan malam.

g. Ketika seluruh keluarga menyambut kedatanganku, hatiku berbunga-bunga bagaikan menjadi seorang raja dalam sehari.

 

5. Majas Hiperbola

Majas hiperbola adalah majas yang digunakan untuk mengungkapkan seseuatu secara berlebihan, bahkan terkadang terkesan tidak masuk akal. Pembuatan majas ini ialah untuk melebih-lebihkan sesuatu dari kenyataan yang sebenarnya agar menarik perhatian pembaca.

Contoh:

a. Kesedihan dan penyesalan wanita itu akibat kematian anaknya membuat tangisannya membanjiri pemakaman hari ini.

b. Jangan suruh dia menjadi penyanyi di acara mana pun lagi karena suaranya seperti Giant di film kartun Doraemon, hanya membuat gendang telinga pendengarnya pecah.

c. Ketampanan dan kelembutannya kepadaku dan keluargaku membuat hatiku meleleh.

d. Jangan sampai kekagumanmu kepada dirinya membuatmu menjadi buta pada kesalahan yang dilakukannya.

e. Menjelang hari raya, harga-harga kebutuhan pokok makin melambung tinggi.

f. Pertarungan kedua orang itu membuat darah mereka mengalir menganak sungai.

g. Setengah mati aku mencari ke sana ke mari, tetapi ternyata kacamata yang kucari ada di atas kepalaku.

 

6. Majas Eufemisme

Majas eufemisme ialah majas yang di mana kata-kata yang kurang baik diganti dengan padanan kata-kata yang lebih halus. Dengan menghaluskan makna yang digunakan ini diharapkan pendengar menjadi tidak tersinggung. Majas ini menggunakan kata tertentu yang lebih halus dari kata lainnya yang terkesan lebih kasar.

Contoh:

a. Kebanyakan makan obat, kakek kini menjadi seorang tunarungu. (tunarungu = tuli)

b. Dita tunawicara sejak usianya menginjak lima tahun. (tunawicara = bisu)

c. Banyak anak tunagrahita yang di sekolahkan pemerintah di sekolah luar biasa. (tunagrahita = keterbelakangan mental)

d. Banyak tunawisma yang berkeliaran di sekitar kampungku. (tunawisma = gelandangan)

e. Oleh karenanya ibunya sering menyantap makanan yang mengandung bahan kimia saat hamil, Mela lahir dalam kondisi tunadaksa. (tunadaksa = cacat fisik)

f. Banyak orang antre ke belakang gara-gara kebanyakan makan pedas. (belakang = toilet)

g. Gara-gara kebanyakan makan ubi, Namira jadi buang angin terus. (buang angina = kentut)

 

7. Majas Disfemisme

Majas difisme adalah majas yang menggunakan kata-kata kasar dengan sengaja. Majas ini merupakan kebalikan dari majas eufemisme.

Contoh:

a. Pak Andi ditendang oleh atasannya. (ditendang = dipecat)

b. Adik sedang buang air besar di jamban. (jamban = kamar kecil atau kakus)

c. Koruptor itu akhirnya dijebloskan juga ke penjara. (dijebloskan = dimasukkan)

d. Polisi berhasil meringkus kawanan pengedar narkoba (meringkus = menangkap)

e. Pejabat itu telah dilengserkan dari jabatannya. (dilengserkan = diberhentikan)

f. Tukang jaga took itu bekerja dengan tidak becus. (tukang jaga took = pramuniaga)

g. Adik kencing di celana karena kebanyakan meminum es. (kencing = buang air kecil)

 

8. Majas Metonimia

Majas metonimia adalah majas yang digunakan untuk menyandingkan istilah sesuatu untuk merujuk pada benda yang umum. Kata yang biasanya dipakai pada majas ini ialah merek barang untuk menggantikan kata yang sudah umum. Pengungkapannya juga bisa dengan penggunaan nama untuk benda lain yang menjadi merek, ciri khas, atau atribut.

Contoh:

a. Di kantongnya selalu terselip Gudang Garam. (maksudnya, rokok bermerek Gudang Garam).

b. Setiap pagi ayah menghirup Kapal Api. (maksudnya, kopi bermerek Kapal Api)

c. Ayah pulang dari luar negeri naik Garuda. (maksudnya, pasawat maskapai penerbangan Garuda)

d. Ia berangkat ke rumahku dengan mengenakan cubitus. (maksudnya, baju)

e. Kabar kenaikan harga BBM membuat warga membuat warga mengantre di Pertamina. (maksudnya, SPBU atau pom bensin)

f. Setelah makan, ani minum satu gelas Aqua. (maksudnya, satu gelas air putih bermerek Aqua)

g. Harga raja lele makin melambung, kesejahteraan rakyat makin turun. (maksudnya, salah satu jenis beras)

 

9. Majas Simile

Majas simile adalah majas yang digunakan untuk menyandingkan suatu aktivitas dengan suatu ungkapan. Ciri pada majas ini ialah menggunakan kata penghubung layaknya, ibarat, bagai, bak, umpamanya. Majas ini sedikit mirip dengan majas asosiasi. Pengungkapan pada majas ini dengan perbandingan eksplisit yang dinyatakan dengan kata depan dan kata penghubung.

Contoh:

a. Parasmu bagai bulan yang bersinar terang di waktu malam.

b. Wanita itu ibarat bunga mawar yang sedang mekar.

c. Kelakuannya bagaikan anak ayam kehilangan induknya.

d. Lelaki itu sangat baik dan dermawan ibarat malaikat yang turun dari langit.

e. Kata-katamu sangat kasar ibarat pisau yang menusuk jantungku.

f. Rio dan Vina ibarat air dan minyak yang tidak dapat dipersatukan.

g. Penciuman Rudi sangat tajam ibarat anjing pelacak mayat.

Baca juga: Pengertian Puisi Beserta Jenis-jenisnya

10. Majas Alegori

Majas alegori ialah majas yang digunakan untuk menyandingkan suatu objek dengan kata kiasan. Majas ini bermaksud untuk mengungkapkan sesuatu dengan cara penggambaran atau kiasan. Ciri dari majas ini, yaitu kalimat yang digunakan cukup panjang dan terdapat beberapa kiasan, namun membentuk suatu kesatuan yang jelas dan tersurat.

Contoh:

a. Mencari seseorang yang berkepribadian jujur kini bagaikan mencari jarum dalam tumpukan jerami.

b. Lidah manusia bagaikan sebuah pedang yang sangat tajam, maka bijaklah dalam menggunakannya.

c. Segala kenikmatan di dunia ini bagaikan fatamorgana yang semu.

d. Seorang anak kepada orang tuanya bagaikan tunas baru bagi inangnya, suatu ketika ia akan menggantikan posisi inangnya sebagai pohon yang kokoh dan kuat menantang badai.

e. Sifat iri dan dengki dapat menghilangkan kebaikan yang ada pada seseorang, sama halnya seperti api yang membakar kayu bakar.

f. Mendengarmu bernyanyi bagaikan berada di dalam pabrik berisi mesin daur ulang.

g. Agama merupakan kompas dalam mengarungi samudera kehidupan yang penuh badai serta gelombang.

 

11. Majas Sinekdok

Majas sinekdok adalah majas yang menyebutkan sebagian untuk seluruh bagian atau sebaliknya, yaitu menyebut seluruh untuk sebagian. Pada majas ini terbagi lagi menjadi dua jenis, yaitu majas sinekdok pars pro toto dan majas sinekdok totem pro parte.

Majas sinekdok pars pro toto adalah majas yang menyebutkan sebagian unsur benda untuk menjelaskan keseluruhan benda.

Contoh:

a. Hingga kini ia belum kalihatan batang hidungnya.

b. Per kepala mendapat Rp300.000,-

c. Melihat wajahnya saja aku sudah tahu bahwa ia orang yang sombong.

Sedangkan majas sinekdok totem pro parte adalah majas yang menyebutkan keseluruhan untuk menjelaskan sebagian situasi atau benda.

Contoh:

a. Indonesia mewakili Asia Tenggara dalam turnamen sepak bola internasional.

b. Dalam pertandingan final bulu tangkis RT 03 akan melawan RT 07.

c. Indonesia akan memilih idolanya malam nanti.

 

12. Majas Simbolik

Majas simbolik adalah majas yang berisi ungkapan yang membandingkan antara manusia dengan sikap makhluk hidup lainnya atau simbol lainnya berupa lambang, tokoh, ataupun benda.

Ciri dari majas ini dapat dilihat dari adanya penggunaan kata hewan atau benda pada majas tersebut. Simbol yang digunakan dalam majas ini memiliki makna tertentu yang mewakili suatu hal yang ingin disampaikan.

Contoh:

a. Anton selalu saja menjadi kambing hitam ketika ada permasalahan yang muncul dalam keluarganya. (kambing hitam = orang yang disalahkan)

b. Pertikaian itu tidak kunjung selesai juga walaupun sudah dibawa ke meja hijau. (meja hijau = pengadilan)

c. Miko dijauhi oleh teman-teman perempuannya karena sudah terkenal sebagai buaya darat di kampusnya. (buaya darat = suka menggoda wanita)

d. Ibu selalu berpesan agar tidak menjadi bunglon karena tidak akan disukai banyak orang. (bunglon = tidak berpendirian)

e. Mata bulatnya yang seperti bola pingpong justru menarik bagi siapa saja yang melihatnya. (bola pingpong = bulat dan kecil)

f. Didung dianggap sebagai benalu di dalam keluarganya. (benalu = orang yang merugikan)

g. Akibat kata-kata kasarnya, Riko mendapat bogem mentah dari ayahnya. (bogem mentah = pukulan)

 

13. Majas Alusio

Majas alusio ialah majas yang mempunyai gaya bahasa yang menggunakan kata-kata di masa lalu untuk menjelaskan suatu kejadian. Kata masa lalu yang biasa digunakan pada majas ini, seperti nama tokoh, lagenda, kejadian, atau cerita.

Selain itu, majas alusio juga dapat diartikan sebagai majas yang memakai peribahasa atau kata kiasan yang sudah sering digunakan. Ciri dari majas ini ialah penggunaan ungkapan yang tidak diselesaikan sebab hal itu sudah umum diketahui.

Contoh:

a. Kamu ini memang tua-tua keladi.

b. Bandung sering disebut sebagai Paris Van Java.

c. Jangan sampai gempa yang siang ini terjadi mengulang kisah 26 Desember di Aceh.

d. Kisah hidup Weni mengingatkan aku pada cerita Bawang Merah dan Bawang Putih.

e. Pasar industri batu akik diprediksi akan sama nasibnya dengan tanaman gelombang cinta.

f. Kasihan Nenek Sukiyem, setelah sukses berwirausaha di luar negeri, anaknya membuang dia begitu saja. Sungguh seperti Malin Kundang.

g. Sungguh disayangkan, masa anak-anak zaman sekarang sudah tidak lagi seseru dahulu.

 

14. Majas Antropomorfisme

Majas Antropomorfisme adalah majas yang memakai kata yang berkaitan dengan manusia, tetapi digunakan pada benda lain.

Contoh:

a. Kancil itu pandai.

b. Mulut gua itu sangat sempit.

c. Seekor anak lebah tengah berkelana mencari ibunya yang ada entah di mana.

d. Kancil menyuruh singa untuk memakan sayur-sayuran.

e. Cecak itu tengah menguping pembicaraan antara Pak Burhan dengan istrinya.

f. Pohon jambu itu tengah bersedih, sehingga daun-daunnya pun meluruh dari ranting-rantingnya.

g. Kucing peliharaan Haris tengah memaki seekor kucing liar yang hendak masuk ke rumahnya.

 

15. Majas Sinestesia

Majas sinestesia ialah majas yang berupa suatu ungkapan rasa dari suatu indra yang dicurahkan melalui ungkapan rasa indra lainnya. Ciri dari majas ini ialah adanya penggunaan indra dalam kalimat.

Contoh:

a. Suaranya merdu sekali.

b. Rio Haryanto mencetak sejarah manis dengan mencatatkan diri sebagai pembalap di F1.

c. Seharum namanya, mawar senantiasa membuat suasana selalu hangat.

d. Kau tau, rupanya yang manis membuat aku tak jemu-jemu memandanginya.

e. Jorge Lorenzo mencetak sejarah manis dengan mencatatkan dirinya lima kali berturut-turut memenangi balapan di Jerez yang juga bertepatan dengan hari ulang tahunnya. Sungguh kado ulang tahun yang paling sedap yang diterimanya.

f. Kau tahu, ketika aku membongkar niat buruknya. Ia hanya terdiam, wajahnya berubah total, dan memucat masam.

g. Senyumannya merekah dan begitu hangat, membuat aku selalu senantiasa mengingatnya. Sulit sekali jika diriku tidak memikirkannya.

Baca juga: Majas: Pengertian, Jenis-Jenis, beserta Contoh Majas

16. Majas Antonomasia

Majas antonomasia adalah majas yang menyebutkan sesuatu secara tidak langsung, melainkan dengan menggunakan sifat yang melekat pada objek tersebut.

Contoh:

a. Si Cntik yang dahulu kita kenal sekarang wajahnya telah berubah.

b. Si Keriting akhirnya meluruskan rambutnya juga.

c. Akhirnya Si Mancung menang juga. Tak salah aku menjagokannya.

d. Si Hitam, motorku yang paling setia. Ke mana ku pergi, dialah yang selalu setia menemani.

e. Nita berjalan dengan sangat lambat. Lelah sekali jika harus satu tim dengan Si Gemuk itu.

f. Si Lincah itu sangat cekatan dalam menyelesaikan tugas yang diberikan oleh atasan.

g. Utaran adalah nama kucingku. Aku sangat menyayangi Si Putih sehingga aku membawanya ke mana pun pergi.

 

17. Majas Aptronim

Majas Aptronim adalah majas yang melekatkan sifat atau pekerjaan pada bagian nama seseorang.

Contoh:

a. Pak Hadi Sepatu biasa berjualan di Pasar Senen. (kesehariannya berjualan sepatu)

b. Narto Angkot berangkat pagi hari dan pulang saat hari sudah malam. (kesehariannya bekerja sebagai sopir angkot)

c. Nardi Batagor biasa mangkal di depan SDN 1 Semarang. (penjual batagor)

d. Tarno Angkringan mangkal di trotoar Jalan Jendral Sudirman Kota Purwodadi. (penjual nasi kucing)

e. Mat Lampu sedang memperbaiki penerangan jalan di pusat kota (penjual dan jasa servis lampu)

f. Ariel Noah mengunjungi Pulau Bali untuk berlibur. (vokali band Noah)

g. Pak Maman Kos sedang membersihkan halaman rumahnya. (pemilik kos-kosan)

 

18. Majas Hipokorisme

Majas hipokorisme adalah majas yang menggunakan nama panggilan tertentu yang menunjukkan dekatnya atau akrabnya suatu hubungan.

Contoh:

a. Si Ujang suka main bola.

b. Kambing Banu sangat lucu, karena itu Banu sangat suka dan merawatnya setiap hari

c. Si Bunda sedang bingung ingin masak apa hari ini.

d. Kata mamih jangan lupa untuk menjemur pakaian.

e. Si Garang sepertinya sedang tidak semangat untuk latihan.

f. Katanya Si Kakak besok mau pergi ke Taman Mini.

g. Om Culun sedang memasak ayam bakar untuk acara nanti malam.

 

19. Majas Litotes

Majas Litotes adalah majas yang menurunkan kualitas sesuatu dengan maksud untuk merendahkan diri. Pada majas ini, sebuah fakta dikecil-kecilkan atau direndah-rendahkan.

Contoh:

a. Kami dapat hidup seperti ini karena usaha kecil-kecilan yang kami jalani.

b. Terimalah kado yang tidak berharga ini sebagai tanda terima kasihku.

c. Akhirnya aku dapat membeli mobil rongsok ini setelah bekerja keras selama lima belas tahun.

d. Tubuh renta ini tampaknya tidak pantas jika harus mendapat penghargaan dari orang sekuat engkau.

e. Bila suatu saat Anda kembali lagi, jangan lupa singgahlah di guruk tua kami yang tak seberapa ini.

f. Apalah arti orang yang hanya memiliki cinta dan kasih sayang sepertiku ini, disbanding dia yang memiliki segalanya.

g. Silakan menikmati jamuan kami yang seadanya ini.

Baca juga: Teks Prosedur: Pengertian, Ciri, Jenis, dan Struktur

20. Majas Fabel

Majas fable adalah majas yang menjelaskan perilaku hewan yang seolah-olah dapat bertindak layaknya manusia. Ciri pada majas ini ialah terdapat penyebutan hewan atau binatang dalam kalimat.

Contoh:

a. Kucing itu sedang berdiskusi dengan temannya untuk menjebak mangsa yang lewat.

b. Ribuan semut itu bergotong royong mengangkut makanan yang berserakan itu.

c. Cecak di dinding tidak kehabisan akal untuk berusaha menangkap nyamuk.

d. Para Ayam sedang bengong memandangi hujan yang turun dengan deras.

e. Nyamuk itu dengan lezatnya menyedot darah.

f. Para burung dara sedang berbincang untuk menangkap mangsa.

 

21. Majas Parabel

Majas parable adalah majas yang pada ceritanya terdapat nilai atau falsafat tentang kehidupan yang mendalam.

Contoh:

a. Kisah Mahabarata mengisahkan bahwa yang benar pasti akan selalu menang.

b. Hikayat Bayan Budiman berisi kisah yang mengajarkan tentang teladan dan kebaikan.

c. Malin Kundang dikutuk menjadi batu karena tidak mengakui keberadaan ibu kandungnya yang berpakaian lusuh dan compang-camping di hadapan istrinya.

d. Nawang Wulan yang mengetahui bahwa selendangnya ternyata ada di tangan Jaka Tarub pun lantas kesal dan kemudian kembali ke kayangan.

 

22. Majas Perifrasa

Majas perifrasa adalah majas yang digunakan untuk mengungkapkan ungkapan yang lebih panjang untuk menggantikan ungkapan yang lebih pendek. Ciri dari majas ini ialah sering terdapat sebutan atau julukan.

Contoh:

a. Andi bekerja di kota pahlawan. (kota pahlawan = Surabaya)

b. Dia menempuh studi ke Negeri Kincir Angin. (Negeri Kincir Angin = Belanda)

c. Rindra kini tengah berkuliah di ibu kota Indonesia. (ibu kota Indonesia = Jakarta)

d. Ani merupakan perempuan kelahiran Kota Kembang. (Kota Kembang = Bandung)

e. Katsuo adalah salah satu peserta siswa pertukaran pelajar yang berasal dari Negeri Matahari Terbit. (Negeri Matahari Terbit = Jepang)

f. Ami dan keluarganya sedang berlibur ke ibu kota Inggris. (ibu kota Inggris = London)

g. Rian sempat mengenyam jenjang pendidikan S1 di Kota Pelajar. (Kota Pelajar = Yogyakarta)

 

23. Majas Eponim

Majas eponym adalah majas yang menggunakan nama sesuatu untuk dipinjam sifatnya yang terkait dengan konteks kalimat yang diutarakan. Ciri dari majas ini ialah adanya nama tokoh atau karakter yang terkenal.

Contoh:

a. Rakyat masih menunggu hadirnya Ratu Adil untuk mengatasi segala permasalahan di negeri ini.

b. Hanya Dewi Fortuna-lah yang bisa menyelamatkan tim futsal SMAN 7 dari kekalahan.

c. Kami merindukan sosok negarawan seperti Bung Hatta yang rela hidup bersahaja meskipun sudah menjadi orang penting di negara ini.

d. Aku berharap semoga hidung para pejabat di negara ini mempunyai hidung seperti Pinokio sehingga mereka tidak berani untuk membohongi rakyat.

e. Rakyat sedang menunggu kedatangan Robin Hood untuk menumpas ketidakadilan.

f. Negeri ini butuh Gajah Mada agar bisa maju

 

Daftar Pustaka:

Agustinalia, Irma. 2018. Majas, Idiom, dan Peribahasa Indonesia. Sukoharjo: Graha Printama Selaras.

Hadi, Gunawan. 2019. Majas dan Peribahasa. Yogyakarta: Cosmic Media Nusantara.

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *