oleh

Majas – Pengertian, Jenis-Jenis, beserta Contoh Majas

-MATERI-769 dilihat

Majas – Majas merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pembelajaran bahasa Indonesia karena majas ialah komponen yang sering ditemukan di dalam karya sastra. Kebanyakan orang hanya mengetahui beberapa jenis  saja, padahal jika dipelajari jenisnya sangatlah banyak dan beragam.

Inilah Penjelasan Lengkap Jenis-Jenis dan Contoh Majas

Pengertian Majas

Majas adalah gaya bahasa yang digunakan untuk menyampaikan sebuah pesan secara imajinatif dan menggunakan bahasa kiasan. Majas menggunakan bahasa figuratif untuk memperkaya pemilihan kata dan bahasa dalam sebuah karya sastra.

Majas juga diartikan sebagai bahasa kias atau bahasa yang dipakai untuk menciptakan efek tertentu yang mencakup bentuk retoris untuk memunculkan kesan imajinatif kepada pembaca atau pendengar.

Pengertian Menurut KBBI V

Menurut KBBI V, majas merupakan cara melukiskan sesuatu dengan jalan menyamakannya dengan sesuatu yang lain atau kiasan.

Pengertian Menurut Aminudin

Aminudin menjelaskan bahwa majas adalah sebuah gaya bahasa dan cara yang digunakan oleh pengarang dalam memaparkan gagasannya sesuai dengan tujuan dan efek yang ingin dicapai.

Pengertian Menurut Tarigan

Menurut Tarigan, majas adalah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis.

Pengertian Menurut Ainia Prihatini

Menurut Ainia Prihatini, majas adalah bahasa berkias yang dapat menghidupkan suasana, meningkatkan efek rasa, atau menimbulkan konotasi tertentu.

Baca juga: Teks Prosedur; Pengertian, Ciri, Jenis, dan Struktur Teks

Jenis-jenis Majas

A. Majas Perbandingan

Majas perbandingan merupakan salah satu jenis majas yang sering digunakan dan dipakai dalam menuliskan sebuah karya. Majas perbandingan adalah kata-kata kiasan atau bahasa figuratif dalam karya sastra yang maknanya merujuk pada arah yang berlawanan dengan arti yang sebenarnya. Majas ini digunakan untuk membandingkan atau menyandingkan suatu objek dengan objek lainnya dengan cara penyamaan, pelebihan, atau penggantian.

Berikut yang termasuk jenis-jenis majas perbandingan:

1. Personifikasi

Personifikasi adalah gaya bahasa yang digunakan untuk menggantikan fungsi benda mati yang dapat bersikap seperti manusia.

Contoh:

Ombak laut itu melambai-lambai kepada sang pengunjung pantai.

 

2. Depersonofikasi

Depersonifikasi adalah kebalikan dari personifikasi, yaitu bahasa figuratif yang mengungkapkan proses atau kegiatan manusia yang disifatkan kepada hewan atau benda non-manusia.

Contoh:

Penonton sepak bola tampak menyemut di tribun.

 

3. Metafora

Metafora adalah gaya bahasa yang digunakan sebagai kiasan yang secara eksplisit mewakili suatu maksud lain yang berdasarkan pada persamaan atau perbandingan.

Contoh:

Hati seorang wanita memang selembut sutra.

 

4. Asosiasi

Asosiasi ialah gaya bahasa yang digunakan untuk membandingkan dua objek yang berbeda. Namun, disamakan dengan menambahkan kata sambung bagaikan, bak, laksana, ibarat, dan juga.

Contoh:

Bibirmu merah merona bagai kelopak mawar yang baru mekar di pagi hari yang cerah ini.

 

5. Hiperbola

Hiperbola adalah gaya bahasa yang digunakan untuk mengungkapkan seseuatu secara berlebihan, bahkan terkadang terkesan tidak masuk akal. Pembuatannya bertujuan untuk menarik perhatian pembaca.

Contoh:

Dalamnya cintaku akan menenggelamkanmu ke samudra terdalam.

 

6. Eufemisme

Eufemisme ialah gaya bahasa yang di mana kata-kata yang kurang baik diganti dengan padanan kata-kata yang lebih halus. Dengan ungkapan halus yang digunakan ini diharapkan pendengar menjadi tidak tersinggung.

Contoh:

Banyak orang antre ke belakang gara-gara kebanyakan makan pedas. (belakang = toilet)

 

7. Disfemisme

Difisme adalah gaya bahasa yang menggunakan kata-kata kasar dengan sengaja dan merupakan kebalikan dari majas eufemisme.

Contoh:

Saya minta izin untuk kecing

 

8. Metonimia

Metonimia adalah gaya bahasa yang digunakan untuk menyandingkan istilah sesuatu untuk merujuk pada benda yang umum. Kata yang biasanya dipakai pada majas ini ialah merek barang untuk menggantikan kata yang sudah umum.

Contoh:

Minumlah baygon kalau kau ingin tamat segera.

 

9. Simile

Simile adalah gaya bahasa yang digunakan untuk menyandingkan suatu aktivitas dengan suatu ungkapan. Cirinya ialah menggunakan kata penghubung layaknya, ibarat, bagai, bak, umpamanya. Simile ini sedikit mirip dengan majas asosiasi.

Contoh:

Lelaki itu sangat baik dan dermawan ibarat malaikat yang turun dari langit.

 

10. Alegori

Alegori ialah gaya bahasa yang digunakan untuk menyandingkan suatu objek dengan kata kiasan yang bermaksud untuk mengungkapkan sesuatu dengan cara penggambaran atau kiasan. Cirinya, yaitu kalimat yang digunakan cukup panjang dan terdapat beberapa kiasan, namun membentuk suatu kesatuan yang jelas dan tersurat.

Contoh:

Agama merupakan kompas dalam mengarungi samudera kehidupan yang penuh badai serta gelombang.

 

11. Sinekdok

Sinekdok adalah gaya bahasa yang menyebutkan sebagian untuk seluruh bagian atau sebaliknya, yaitu menyebut seluruh untuk sebagian. Pada majas ini terbagi lagi menjadi dua jenis, yaitu sinekdok pars pro toto dan sinekdok totem pro parte.

Sinekdok pars pro toto adalah gaya bahasa yang menyebutkan sebagian unsur benda untuk menjelaskan keseluruhan benda.

Contoh:

Batang hidungnya tidak muncul juga hingga hari ini.

(Dalam hal ini kata ‘batang hidung’ merujuk pada individu secara keseluruhan).

Sedangkan sinekdok totem pro parte adalah gaya bahasa yang menyebutkan keseluruhan untuk menjelaskan sebagian situasi atau benda.

Contoh:

Indonesia mewakili Asia Tenggara dalam turnamen sepak bola internasional.

(Dalam hal ini kata ‘Indonesia’ merujuk pada tim sepak bolanya saja).

 

12. Simbolik

Simbolik adalah gaya bahasa yang berisi ungkapan yang membandingkan antara manusia dengan sikap makhluk hidup lainnya. Ciriinya ialah dapat dilihat dari adanya penggunaan kata hewan atau benda pada majas tersebut.

Contoh:

Dosenku adalah kamus berjalan.

 

13. Alusio

Alusio ialah majas yang mempunyai gaya bahasa yang menggunakan kata-kata di masa lalu untuk menjelaskan suatu kejadian. Kata masa lalu yang biasa digunakan, seperti nama tokoh, lagenda, kejadian, atau cerita.

Contoh:

Walaupun miskin, jangan sampai kau seperti malin kundang pada ibunya.

 

14. Antropomorfisme

Antropomorfisme adalah gaya bahasa yang memakai kata yang berkaitan dengan manusia, tetapi digunakan pada benda lain.

Contoh:

Mulut gua itu sangat sempit.

 

15. Sinestesia

Sinestesia ialah gaya bahasa yang berupa suatu ungkapan rasa dari suatu indra yang dicurahkan melalui ungkapan rasa indra lainnya.

Contoh:

Dengan telaten, ibu mengendus setiap manga dalam keranjang dan memilih yang berbau manis.

(Bau merupakan indra penciuman dan manis merupakan indra pengecapan)

 

16. Antonomasia

Antonomasia adalah gaya bahasa yang menyebutkan sesuatu secara tidak langsung, melainkan dengan menggunakan sifat yang melekat pada objek tersebut.

Contoh:

Si Gempal

Si Pandai

 

17. Aptronim

Aptronim adalah gaya bahasa yang melekatkan sifat atau pekerjaan pada bagian nama seseorang.

Contoh: Sukasah tukang suntik

 

18. Hipokorisme

Hipokorisme adalah gaya bahasa yang menggunakan nama panggilan tertentu yang menunjukkan dekatnya atau akrabnya suatu hubungan.

Contoh:

Kambing Banu sangat lucu, karena itu Banu sangat suka dan merawatnya setiap hari.

 

19. Litotes

Litotes adalah gaya bahasa yang menurunkan kualitas sesuatu dengan maksud untuk merendahkan diri dan terdapat sebuah fakta dikecil-kecilkan atau direndah-rendahkan.

Contoh:

Terimalah kado yang tidak berharga ini sebagai tanda terima kasihku.

 

20. Fabel

Fable adalah gaya bahasa yang menjelaskan perilaku hewan yang seolah-olah dapat bertindak layaknya manusia. Cirinya ialah terdapat penyebutan hewan atau binatang dalam kalimat.

Contoh:

Semut itu sedang bergotong-royong untuk mengangkut maanan yang berserakan itu.

 

21. Parabel

Parable adalah gaya bahasa yang pada ceritanya terdapat nilai atau falsafat tentang kehidupan yang mendalam.

Contoh:

Kisah Mahabarata mengisahkan bahwa yang benar pasti akan selalu menang.

 

22. Perifrasa

Perifrasa adalah gaya bahasa yang digunakan untuk mengungkapkan ungkapan yang lebih panjang untuk menggantikan ungkapan yang lebih pendek. Cirinya ialah sering terdapat sebutan atau julukan.

Contoh:

Andi bekerja di kota pahlawan. (maksudnya Surabaya)

 

23. Eponim

Eponym adalah gaya bahasa yang menggunakan nama sesuatu untuk dipinjam sifatnya yang terkait dengan konteks kalimat yang diutarakan. Cirinya ialah adanya nama tokoh atau karakter yang terkenal.

Contoh:

Negeri ini butuh Gajah Mada agar bisa maju.

 

Baca juga: Pengertian dan Metode Menyimak Sejak Dini

B. Majas Pertentangan

Majas pertentangan adalah gaya bahasa yang di dalamnya terdapat pertentangan yang bermaksud untuk menciptakan efek yang lebih dahsyat. Berikut ialah macam-macam majas pertentangan.

1. Oksimoron

Oksimoron adalah majas yang dalam satu frase terdapat paradoks. Cirinya ialah terdapat hal yang seolah-olah bertentangan yang diungkapkan dalam satu frase.

Contoh:

Reuni itu penuh dengan isak tangis bahagia.

 

2. Paradoks

Paradoks adalah gaya bahasa yang digunakan untuk mengungkapkan dua hal yang berlawanan meski keduanya benar secara kenyataan.

Contoh:

Walau berada di ruangan yang dipenuhi orang, aku merasa kesepian.

 

3. Antitesis

Antitesis adalah gaya bahasa yang menggunakan kata-kata yang memiliki arti bertentangan antara satu dengan lainnya. Cirinya ialah kata bertentangan yang digunakan itu sering berdekatan.

Contoh:

Manis pahit cerita hidupku akan membuatku lebih memahami arti kehidupan.

 

4. Kontradiksi Interminus

Kontrediksi interminus adalah gaya bahasa yang digunakan untuk pengecualian. Sebelumnya disebutkan sesuatu yang diperbolehkan, kemudian diikuti dengan penyangkalan.

Contoh:

Semua orang dilarang masuk ruangan ini, kecuali yang berwenang.

 

5. Anakronisme

Anakronisme adalah gaya bahasa yang mengatakan sesuatu di masa lalu, namun tampak terdapat hal yang bertentangan. Cirinya ialah dipakai untuk menceritakan hal yang terjadi di masa lampau.

Contoh:

Galileo Galilei membawa iPhone saat menunjukkan hasil penemuannya.

Baca juga: Contoh Soal Bahasa Indonesia Kelas 12 : Majas, Ungkapan, dan Peribahasa

C. Majas Sindiran

Majas sindiran adalah gaya bahasa yang berisi sindiran untuk membuat kesan tertentu bagi orang yang mendengar. Berikut ialah macam-macam majas sindiran.

1. Ironi

Ironi adalah gaya bahasa yang di dalamnya terdapat hal yang ironis atau sindiran dengan menyembunyikan fakta yang sebenarnya dan mengatakan kebalikan dari fakta tersebut. Cirinya ialah terdapat hal yang seolah meninggikan, tetapi setelah itu menjatuhkan.

Contoh:

Rajin sekali kamu, tugas saja sampai setumpuk gunung begini.

 

2. Sarkasme

Sarkasme adalah gaya bahasa sindiran, namun sifatnya kasar, yaitu dengan menyebutkan langsung dan menohok.

Contoh:

Mengerjakan soal seperti ini saja tidak bisa, dasar bahlul!

 

3. Sinisme

Sinisme adalah gaya bahasa sindiran langsung dan sifatnya lebih kasar dari ironi. Biasanya sinsime ini sering terlontar dalam percakapan langsung.

Contoh:

Lama-kelamaan aku bisa jadi gila karena melihat kelakuanmu yang seperti itu.

 

4. Satire

Satire adalah gaya bahasa yang bermaksud untuk mengecam atau menertawakan ide seseorang. Satire kerap kali digunakan kombinasi antara ironi, sarkasme, atau parodi.

Contoh:

Matamu buta? jalan kok tidak lihat-lihat.

 

5. Innuedo

Innuedo adalah gaya bahasa yang bermaksud untuk mengecilkan keadaan yang sebenarnya.

Contoh:

Dikatain begitu saja kok nangis.

 

D. Majas Penegasan

Majas penegasan adalah gaya bahasa yang bertujuan untuk menegaskan sesuatu untuk membuat efek tertentu bagi yang mendengar maupun membaca. Berikut ialah macam-macam majas penegasan.

1. Apofasis

Apofasis adalah gaya bahasa yang seolah-olah menyangkal sesuatu, namun justru menegaskannya. Apofasis juga sering disebut majas preterisio.

Contoh:

Jujur saja, saya enggan untuk menjelaskan dalam forum ini bahawa Anda sudah korupsi uang negara.

 

2. Pleonasme

Pleonasme adalah gaya bahasa yang memberikan keterangan tambahan untuk hal yang sudah jelas. Padahal keterangan tersebut sebenarnya tidak dibutuhkan.

Contoh:

Saya maju ke depan.

 

3. Repetisi

Repetisi adalah gaya bahasa yang menggunakan pengulangan kata, frasa, atau klausa dalam sebuah kalimat. Pengulangan tersebut digunakan sebagai penegasan.

Contoh:

Aku mencintaimu, aku menyangimu, aku mengasihimu.

 

4. Pararima

Pararima adalah gaya bahasa yang berisi pengulangan pada bagian konsonan awal dan akhir dalam sebuah kata atau pada bagian kata yang berlainan.

Contoh:

Kocar-kacir

 

5. Aliterasi

Aliterasi adalah gaya bahasa yang melakukan pengulangan konsonan di awal kata dengan beruntun.

Contoh:

Lintasi laut lewati lembah.

 

6. Paralelisme

Paralelisme adalah gaya bahasa yang sering digunakan dalam puisi. Pada paralelisme terdapat penegasan dengan cara mengulang kata, frasa, atau klausa secara sejajar.

Contoh:

Shalat adalah ibadah

Shalat adalah kewajiban

Shalat adalah kebutuhan

 

7. Tutologi

Tautologi adalah gaya bahasa yang mengulang beberapa kali sebuah kata pada kalimat.

Contoh:

Di malam yang dingin menggigit ini terasa sepi sunyi tanpamu di sisiku.

 

8. Sigmatisme

Sigmatisme adalah gaya bahasa yang menggunakan bunyi ‘s’ untuk diulang sehingga menghasilkan efek tertentu. Sigmatisme seringkali ditemukan pada sajak maupun puisi.

Contoh:

Kutulis surat ini kala gerimis.

 

9. Antanaklasis

Antanaklasis adalah gaya bahasa yang mengulang kata, namun maknanya menjadi berbeda.

Contoh:

Ayahku membawa buah tangan berupa buah durian.

 

10. Klimaks

Klimaks adalah gaya bahasa yang menjelaskan secara bertingkat dari yang paling bawah ke yang lebih tinggi.

Contoh:

Dari masyarakat kecil, masyarakat menengan, sampai masyarakat atas, semuanya berjubel memborong barang di tokoh itu.

 

11. Antiklimaks

Antiklimaks adalah kebalikan dari majas klimaks, yaitu gaya bahasa yang mulai dari yang terpenting sampai yang tidak penting.

Contoh:

Dari kota, desa, sampai pelosok semuanya bersyukur atas keberhasilan pemilu yang lancar dan aman.

 

12. Interversi

Inversi adalah gaya bahasa yang susunannya dibalik dengan menyebutkan predikat terlebih dahulu, kemudian diikuti oleh subjeknya.

Contoh:

Dikejar oleh satpol PP, pedagang kaki lima itu lari tunggang langgang.

 

13. Retoris

Retoris adalah gaya bahasa yang berupa pertanyaan sebenarnya dan jawabannya terdapat pada kalimat tersebut.

Contoh: Apakah ini yang disebut merdeka?

 

14. Elipsis

Elipsis adalah gaya bahasa yang menghilangkan unsur kalimat tertentu.

Contoh:

Saya ke rumah teman.

(Terdapat penghilangan unsur predikat berupa kata ‘pergi’.

 

15. Koreksio

Koreksio adalah gaya bahasa yang menyebutkan sesuatu dan kemudian dikoreksi untuk menyatakan maksud yang sesungguhnya.

Contoh:

Silakan jika saudara-saudara ingin pulang, eh maaf maksudnya silakan untuk menginap.

 

16. Polisindenton

Polisidenton adalah gaya bahasa yang memanfaatkan penggunaan kata hubung dalam sebuah kalimat atau wacana.

Contoh:

Setelah bangun tidua, aku lalu mandi, setelah itu membantu ibu, dan kemudian berangkat sekolah.

 

17. Asindeton

Asindenton adalah kebalikan dari polisindenton, yaitu gaya bahasa yang tidak menggunakan kata penghubung dalam sebuah kalimat maupub wacana.

Contoh:

Kakek, nenek, ayah, ibu.

 

18. Interupsi

Interupsi adalah gaya bahasa yang memberikan sisipan keterangan tambahan pada unsur kalimat.

Contoh:

Andi, teman sekolahku, sedang sakit.

 

19. Eksklamasio

Eksklamasio adalah gaya bahasa yang memakai kata-kata seru.

Wah, hebat sekali!

 

20. Enumerasio

Enumerasio adalah gaya bahasa yang menjelaskan secara detail perbagian sehingga keseluruhan kondisi atau keadaan dapat dipahami.

Contoh:

Banjie sedada, listrik mati, anak-anak menangis, kelaparan menunggu pertolongan.

 

21. Preterito

Preterito adalah gaya bahasa yang seolah-olah ingin menyembunyikan sesuatu untuk dirahasiakan.

Contoh:

Aku tak akan membuka kedoknya kalau dia adalah preman tanah abang.

 

22. Alonim

Alonim adalah gaya bahasa yang menggunakan variasi nama tertentu yang digunakan dengan maksud sebagai penegasan.

Contoh:

Prof, ada yang perlu saya tanyakan.

 

23. Kolokasi

Kolokasi adalah penggunaan asosiasi tetap antara satu kata dengan kata lain yang berdampingan dalam sebuah kalimat.

Contoh:

Nasibku harus berhubungan dengan si bebal itu.

 

24. Silepsis

Silepsis adalah gaya bahasa yang menggunakan satu kata yang memiliki lebih dari satu makna dan berfungsi lebih dari satu susunan sintaksis.

Contoh:

Sirna sudah segala harkat dan harga diri orang itu.

 

25. Zeugma

Zeugma adalah gaya bahasa yang menggunakan kata yang tidak logis dan tidak gramatis pada susunan kontruksi sintaksis kedua yang memberikan efek rancu.

Contoh:

Perlu saya beritahu, nenek saya itu peramah dan juga pemarah.

Nah, itulah pengertian majas, jenis-jenis, beserta contohnya. Semoga artikel ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan kalian!

 

Daftar pustaka:

Gunawan, Hadi. 2019. Majas dan Peribahasa. Jogjakarta: Cosmic Media Nusantara.

KBBI V daring.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *