oleh

Sastrawan Indonesia Paling Legendaris

Sastrawan Indonesia –Manusia Indonesia yang menghasilkan karya sastra dengan bahasa atau tempat apapun dapat disebut sastrawan Indonesia. Meskipun karyanya dengan menggunakan bahasa asing, bahasa daerah, atau bahasa resmi lainnya dan tempat menulisnya bukan di Indonesia, jika penulisnya ialah warganegara Indonesia maka tetap dikatakan sastrawan Indonesia. Hal tersebut terjadi seperti itu karena sastrawan Indonesia merupakan warganegara Indonesia, berjiwa Indonesia, dan juga lahir di Indonesia. Dengan demikian, sastrawan memiliki peran penting dalam perkembangan dan kemajuan bangsa dan negara.

Sastrawan Indonesia terbagi menjadi periodisasi dengan angkatan-angkatan. Angkatan sastra Indonesia merupakan penamaan untuk kelompok pengarang yang seirama dan sepaham yang melahirkan suatu karya pada masa-masa atau satu periode tertentu.  Karena itu, angatan tersebut terbagi atas beberapa periode, yaitu angkatan pujangga kuno, angkatan pujangga lama, angkatan balai pustaka, angkatan pujangga baru, angkatan 45, angkatan 66, angkatan 70-80, angkatan 2000, dan angkatan sesudah angkatan 2000. Dari banyaknya angkatan-angkatan tersebut terdapat beberapa sastrawan yang legendaris sejak dahulu hingga kini.

Berikut ialah nama dan biografi sastrawan Indonesia paling Legendaris:

1. Chairil Anwar

Chairil Anwar

Chairil Anwar adalah penyair Indonesia yang sangat terkenal. Ia merupakan penyair pendobrak dan pelopor angkatan 45 dalam puisi. Chairil lahir: Medan, Sumatera Utara pada 26 Juli 1922. Meninggal: Jakarta pada 28 April 1949 dengan usia 27 tahun kurang tiga bulan. Ia terkenal dengan sajak-sajaknya yang bermutu tinggi sehingga para ahli sastra menyebutnya dengan istilah Sastra Mimbar, yaitu jenis sastra yang secara tematis berhubungan erat dengan persoalan zaman, seperti sajak miliknya yang berjudul Aku (1948), Diponegoro (1943), Persetujuan dengan Bung Karno (1948), dan Krawang-Bekasi (saduran dari “The Young Dead Soldiers” karya MacLeish).

Selain itu, ia juga memiliki karya lainnya seperti kumpulan sajak, antara lain:

Kumpulan Sajak Charil Anwar

  1. Kerikil Tajam dan Yang Terhempas dan Yang Putus (1949)
  2. Deru Campur Debu (1949)
  3. Tiga Menguak Takdir (1950, bersama Rivai Apin dan Asrul Sani)
  4. Aku Ini Binatang Jalang: Koleksi Sajak 1942-1949 (1986)
  5. Derai-derai Cemara (1999).

Karya-karya Chairil lainnya dihimpun oleh H.B. Jassin dalam buku berjudul Chairil Anwar Pelopor Angkatan 45 (1956). Selain itu, ia juga banyak menerjemahkan sajak-sajak dan prosa asing.

 

2.Sapardi Djoko Damono

Sapardi Djoko Damomo

Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono adalah sastrawan Indonesia terkemuka, penyair terkenal, penerjemah andal, editor, kritikus, sastra, pengamat dan pakar sastra, dan juga penulis cerpen dan esai. Ia lahir di Solo, Jawa Tengah pada 20 Maret 1940 dan wafat pada 19 Juli 2020. Pendidikan: Sekolah Rakyat (SR) Kraton “Ksatriyan” Baluarti (Solo), SMP Negeri 2 Solo, SMA. Kemudian, ia kuliah Jurusan Sastra Inggris, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Selain itu, ia juga pernah memperdalam ilmu pengetahuannya mengenai humanities, Universitas of Hawaii, Honolulu, Amerika Serikat pada 1970 sampai 1971.

Sapardi berperan penting dalam kehidupan sastra Indonesia. Ia merupakan penyair kreatif, sederhana, sangat populer, dan cendekiawan yang mulai menulis sekitar tahun 1960-an. Kumpulan sajaknya, antara lain:

Kumpulan Sajak Sapardi Djoko Damono

  1. DukaMu Abadi (1969)
  2. Mata Pisau (1974)
  3. Akuarium (1974)
  4. Perahu Kertas (1983, telah diangkat ke layar lebar)
  5. Sihir Hujan (1984)
  6. Hujan Bulan Juni (1994, versi novel pada 2015, dan telah diangkat ke layar lebar)
  7. Arloji (1999), Ayat-ayat Api (2000)
  8. Mata Jendela (2000)
  9. Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sasto? (2003).

Puisi-puisinya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Belanda, Cina, Jepang, Prancis, Urdu, Hindi, Jerman, Bali, dan Jawa. Selain itu, karyanya tidak hanya berupa puisi, ia juga menulis esai, karangan ilmiah, kajian, dan cerpen.

 

3. Sutardji Calzoum Bachri

Sutardji Calzoum Bachri

Sutardji Calzoum Bachri (SCB) merupakan penyair terkemuka Indonesia yang mendapatkan julukan “Presiden Penyair Indonesia Modern” dan memiliki banyak gelar atau julukan lainnya, seperti penyair mantra, penyair kapak, penyair bir, penyair sufi, dan penyair tasawuf. Ia merupakan pelopor angkatan 70. Lahir: Rengat, Indragiri, Riau pada 24 Juni 1941. Selain penyair, Sutardji juga menulis cerpen dan esai.

Sajak-sajak Sutardji sangat fenomenal karena ia menemukan bahasa pengucapannya sendiri dan sekaligus menciptakan konsep dan pengertian baru mengenai bahasa sajak. Ia kerapkali membacakan sajak-sajaknya secara sugestif dan eksentrik. Karyanya tidak hanya sajak, tetapi ada pula berupa cerpen dan esai. Karyanya berupa kumpulan sajak, antara lain:

Kumpulan Sajak Sutardji Calzoum Bachri

  1. O (1973)
  2. Amuk (1977)
  3. Kapak (1979)
  4. O Amuk Kapak (1981)

Puisi-puisi karya Sutardji juga diterjemahkan ke bahasa asing.  Selain itu, ia juga menulis cerpen dan kumpulan esai. Berikut ialah karyanya yang berupa cerpen dan esai, yaitu:

Cerpen Karya Sutardji Calzoum Bachri

  1. Hujan Menulis Ayam (antologi cerpen, 2001).

Kumpulan Esai Karya Sutardji Calzoum Bachri

  1. Gelak Esai dan Ombak Sajak Anno 2001 (dalam rubric “Bentara” Kompas)
  2. Isyarat (kumpulan esai, 2008).

Baca juga: Teks Fiksi dan Non fiksi dalam Bahasa Indonesia

 

4. Putu Wijaya

Putu Wijaya

I Gusti Ngurah Putu Wijaya atau Putu Wijaya adalah sastrawan Indonesia terkemuka, dramawan besar terkenal, sutradara, pemain sinetron, dan film layar lebar, penulis drama, penulis skenario film, penulis cerpen, novel, puisi, esai, kritik, dan kolom, serta aktif dalam bidang teater dan jurnalistik. Lahir: Puri Anom, Tabanan, Bali pada 11 April 1944. Pendidikan Putu Wijaya: sekolah rakyat, SMP Negeri Tabanan, SMA Negeri Singaraja. Kemudian, kuliah: Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Yogjakarta dan ASRI Jurusan Seni Lukis selama satu tahun dan Akademi Seni Drama dan Film (ASDRAFI) selama tiga tahun.

Dalam berkarya, Putu Wijaya selalu melahirkan karya dengan konsep “terror”. Dengan konsep tersebut, ia ingin membuat pembaca/penikmat/penojnton sedikit terganggu, terhenyak, terkejut, dan terhenti sebentar, lalu berpikir, merenung, dan menyadari tentang segala nilai-nilai yang ada pada alam bawah sadar manusia terhadap suatu kejadian. Karya-karyanya mendapat banyak mendapat penghargaan. Karya-karyanya diantaranya:

Karya-karya Putu Wijaya

  1. Dalam Cahaya Bulan (drama, 1966)
  2. Lautan Bernyanyi (drama, 1967)
  3. Invalid (drama)
  4. Tak Sampai Tiga Bulan (drama)
  5. Bila Malam Bertambah Malam (drama, 1971)
  6. Bila Malam Bertambah Malam (novel, 1971)
  7. Aduh (drama, 1973)
  8. Anu (drama, 1974)
  9. Stasiun (novel, 1977)
  10. Gerr (drama, 1986)

 

5. WS Rendra

WS Rendra

Willybrordus Surendra Bhawana Rendra Brotoatmojo atau WS Rendra merupakan sastrawan yang lahir di Kampung Jayengan, Surakarta, Jawa Tengan pada 17 November 1935. Ia wafat pada 6 Agustus 2009 dan dimakamkan di Kampus Bengkel Teater Rendra. Pendidikannya: TK Marsudirini pada 1942. Kemudian, ia melanjutkan pendidikan SD, SMP, dan SMA di Solo, Jawa Tengah, lalu ia masuk Jurusan Sastra Inggris, Universitas Gadjah  Mada, Yogyakarta.

Rendra pernah mendirikan kelompok teater Yogyakarta pada tahun 1961. Kegiatan teater Yogyakarta tersebut terhenti pada tahun 1964 karena ia mendapat beasiswa dari American Academy of Dramatical Art (AADA). Pendidikannya tersebut selesai pada tahun 1967, lalu pada 1968 ia mendirikan Bengkel Teater. Rendra mulai bersastra sejak kelas 2 SMP dan karyanya banyak terbit di majalah. Karya-karya rendra tidak hanya berupa sajak, tetapi ada pula yang berupa drama, diantaranya:

Karya-karya WS Rendra

  1. Orang-orang di Tikunfan Jalan (1956)
  2. Perjuangan Suku Naga (1956)
  3. Mastadon dan Burung Kendor (1956)
  4. Sekda (1956)
  5. Penembahan Reso (1988).

Sedangkan dramanya yang belum dibukukan tetapi sudah dipentaskan, antara lain:

  1. Sunia Azwa
  2. Qasidah Berzanji
  3. Bip-Bop

Terjemahan dramanya:

  1. Odipus Sang Raja (1976)
  2. Odipus di Kolonys (1976)
  3. Antigone (1976)
  4. Informan (1968)
  5. SLA (1970).

Karya kumpulan sajaknya, yaitu:

  1. Balada Orang-orang Tercinta (1957)
  2. Empat Kumpulan Sajak (1961)
  3. Potret Pembangunan dalam Puisi (1980)
  4. Disebabkan oleh Angin (1993)
  5. Orang-orang Rangkasbitung (1993)

 

6. Taufiq Ismail

taufiq ismail

Dr. Taufiq Ismail adalah sastrawan Indonesia terkemuka, penyair terkenal dan produktif, dan tokoh terpenting angkatan 66. Ia lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat pada 25 Juni 1935 dan besar di Pekalongan. Ia memiliki latar belakang keluarga yang bernafaskan keagamaan, ayahnya seorang ulama Muhammadiyah terkemuka. Pendidikannya: sekolah rakyat Solo, lalu tamat: Muhammadiyah Ngupasan, Yogyakarta pada 1948, SMP I Bukittinggi pada 1952, SMA: Bogor, kemudian tamat: SMAN Pekalongan pada 1956. Selanjutnya ia pergi untuk belajar dalam rangka pertukaran pelajar di White Fish Bay High Scool, Milwakee, Wisconsin, Amerika Serikat pada 1957. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikannya ke Fakultas Kedokteran Hewan dan Perternakan, Universitas Indonesia, Bogor pada 1957 sampai 1963.

Karya-karyanya berupa buku telah ditulis sebanyak 29 judul pada tahun 1966 sampai 2013. Karya lainnya berupa kumpulan puisi, antara lain:

Kumpulan Puisi Taufiq Ismail

  1. Manifestasi (antologi puisi, 1963)
  2. Benteng (1966)
  3. Puisi-puisi Sepi (1971)
  4. Kota
  5. Pelabuhan, Ladang, Angin, dan Langit (1971)
  6. Buku Tamu Museum Perjuangan (1972)
  7. Sajak Ladang Jagung (1973)
  8. Kenalkan, Aku Hewan (kumpulan puisi anak-anak, 1976)
  9. Puisi-puisi Langit (1990)
  10. Rerumputan Dedaunan (terj. antologi puisi, 1993)
  11. Tirani dan Benteng (1993)
  12. Jadi Orang Indonesia (1998)

 

7.Sutan Takdir Alisyahbana

sutan takdir alisyahbana

Prof. Dr. Mr. Sutan Takdir Alisjahbana (STA) merupakan sastrawan, budayawan, dan cendekiawan Indonesia yang terkenal dan terkemuka. Ia lahir di Natal, Sumatera Utara pada 11 Februari 1908 dan wafat di Jakarta pada 17 Juli 1994. Ia terkenal sebagai pelopor dan tokoh utama dari Pujangga Baru. Poejangga Baroe merupakan nama majalah yang berdiri pada 29 Juli 1933 bersama dengan Amir Hamzah, Armijn Pane, dan kawan-kawan. Setelah itu nama pujangga baru digunakan sebagai nama angkatan dalam sastra Indonesia pada tahun 1930an, yaitu Angkatan Pujangga Baru.

Pada tahun 1928, STA lulus dari HKS Bandung. Setelah itu, ia lulus dari Sekolah Hakim Tinggi Jakarta pada tahun 1942. Pada tahun 1979, ia mendapat gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Indonesia dan mendapat gelar yang sama dari Universitas Sains, Penang, Malaysia pada 1987.

Baca juga: Penulisan Huruf Kapital yang Baik dan Benar

Karya-karya Sutan Takdir Alisyahbana

Karya-karya STA antara lain:

  1. Tak Putus Dirundung Malang (roman, 1929)
  2. Dian yang Tak Kunjung Padam (roman, 1932)
  3. Tebaran Mega (kumpulan sajak, 1935)
  4. Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia (buku teks, 1936)
  5. Layar Terkembang (roman, 1936)
  6. Anak Perempuan di Sarang Penyamun (roman, 1940)
  7. Puisi Lama (antologi puisi, 1941)
  8. Puisi Baru (antologi puisi, 1946)
  9. Pelangi (antologi puisi dan prosa, 1946)
  10. Kebangkitan Puisi Baru Indonesia (kumpulan esai, 1969)
  11. Perjuangan dan Tanggung Jawab dalam Kesusastraan (kumpulan esai, 1977)
  12. Lagu Pemacu Ombak (kumpulan sajak, 1978)
  13. Amir Hamzah Penyair Besar antara Dua Zaman dan Uraian Nyayian Sunyi (studi, 1979)
  14. Kalah dan Menang (roman, 1978)
  15. Kreativitas (kumpulan esai, 1984)
  16. Perempuan di Persimpangan Zaman (kunpulan sajak, 1985)

 

8. HAMKA

buya hamka

Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) atau terkenal dengan nama Buya Hamka. Ia lahir di Sungai Batang, Maninjau, Sumatera Barat pada 17 Februari 1908 dan meninggal di Jakarta pada 24 Juli 1981 dengan usia 73 tahun. Prof. Dr. Hamka adalah sastrawan Indonesia terkemuka dan merupakan seorang ulama besar yang terkenal dan berpengaruh di Asia Tenggara sehingga ia mendapat julukan sebagai ‘Ulama Pujangga’.

Pendidikannya: sekolah dasar hanya sampai kelas dua dan pendidikan agama dan bahasa Arabnya juga tidak selesai. Ia belajar agama dan bahasa Arab: Sumatera Thawalib Parabek, Bukittinggi pada 1922. Kemudian, ia banyak menghabiskan waktunya dengan belajar sendiri atau otodidiak. Ia banyak membaca buku dan belajar langsung dengan para tokoh dan ulama, baik di dalam negeri (Sumatera Barat dan Jawa) maupun di luar negeri (Mekkah, Arab Saudi). Pada tahun 1924, ia pergi merantau ke pulau Jawa dan usianya baru 16 tahun. Di Jawa ia menimba ilmu pada H.O.S. Tjokroaminoto, Ki Bagus Hadikusumo, R.M. Soerjopranoto, K.H. Fakhruddin, dan A.R. Sutan Mansur.

Hamka mulai banyak menulis pada 1936, yaitu pada saat ia pindah ke Medan. Ia menulis karya-karya yang bertemakan religius. Ia terkenal sebagai sastrawan yang berwawasan luas, berbakat dalam bidang bahasa, dan bahkan mempu membaca literatur Arab. Sebagai ulama dan sastrawan, ia memilki sekitar 118 karya tulisan (artikel dan buku) yang telah dipublikasikan. Karya romannya antara lain:

Karya Roman HAMKA

  1. Di Bawah Lindungan Ka’bah (1939, telah diangkat ke layar lebar)
  2. Merantau ke Deli (1938)
  3. Karena Fitnah (1938)
  4. Tuan Direktur (1939)
  5. Tenggelamnya Kapal van der Wijck (1939, telah difilmkan tahun 2013)
  6. Soules Tilleuls (Di Bawah Naungan Pohon Tilia, yang terbit pada 1832)

 

9. Pramoedya Ananta Toer

pramoedya

Pramoedya Ananta Toer adalah sastrawan dan budayawan besar Indonesia yang terkenal sebagai novelis yang produktif. Ia lahir di Jetis, Blora, Jawa Tengah pada 6 Februari 1925. Pendidikannya: sekolah rendah (SD) Instituut Budi Utomo, Blora. Lalu, sekolah teknik radio (Radiovakschool Surabaya) pada 1940-1941. Setelah itu ia ke Jakarta dan bekerja di Kantor Berita Domei sambil sekolah: Taman Dewasa/taman Siswa pada 1942-1943, kursus: Sekolah Stenografi pada 1944-1945, dan terakhir kuliah: Sekolah Tinggi Islam Jakarta (1945).

Baca juga: Cerita Rakyat Indonesia – Jenis dan Contoh

Karya-karyanya sempat tidak dapat beredar di Indonesia. Namun, pada lahirnya gelombang reformasi membuat karya-karyanya dapat terbit dengan bebas. Kreativitasnya bergolak untuk membalas dengan karya-karya besar yang mampu menembus dunia. Karya-karya Pramoedya yang banyak diterjemahkan dan dicetak ulang, yaitu:

Karya-karya Pramoedya Ananta Toer

  1. Cerita dari Blora (kumpulan cerpen)
  2. Bumi Manusia (novel, telah diangkat ke layar lebar)
  3. Gadis Pantai

Karya novelnya antara lain:

  1. Kranji Bekasi Jatuh (1947)
  2. Keluarga Geriliya (1950)
  3. Perburuan (1950)
  4. Di Tepi Kali Bekasi (1951)
  5. Dia yang Menyerah (1951)
  6. Mereka yang Dilumpuhkan (1951)
  7. Gulat di Jakarta (1953)
  8. Korupsi (1954).

Kumpulan cerita pendeknya antara lain

  1. Percikan Revolusi (1950)
  2. Subuh: Cerita-cerita Pendek Revolusi (1950)
  3. Cerita dari Jakarta (1957)
  4. Tikus dan Manusia (1950)

 

10. Arifin C. Noer

arifin

Arifin Chairin Noer adalah sastrawan Indonesia yang terkemuka dan terkenal sebagai dramawan, sutradara teater, film, dan sinetron, penulis skenario, drama, dan sajak. Arifin lahir di Cirebon, Jawa Barat pada 10 Maret 1941 dan meninggal pada 28 Mei 1955 di Jakarta. Ia terkenal sebagai dramawan Indonesia yang sangat fasih dalam menyuarakan kemiskinan melalui karya-karyanya. Arifin SD dan SMP: Cirebon, SMA: Surakarta, Jawa Tengah. Dari Surakarta inilah ia mulai belajar kesenian, ia berkenalan dengan Sapardi Djoko Damono, Mochtar Hadi, Dedy Sutomo, dan W.S Rendra. Kemudian, ia ke Jogyakarta dan mulai aktif menulis puisi dan menekuni teater. Pada tahun 1968, Arifin mendirikan teater yang ia jadikan sebagai wadah untuk berkreativitas. Teater tersebut bernama “Teater Kecil”.

Arifin mulai menulis pada tahun1950-an dan karya-karyanya tersebar di berbagai penerbitan, surat kabar, dan majalah. Karyanya yang berupa kumpulan sajak atau puisi, antara lain:

Kumpulan Sajak atau Puisi Arifin C. Noer

  1. Nurul Aini (1963)
  2. Siti Aisah (1964)
  3. Puisi-puisi yang Kehilangan Puisi (1967)
  4. Selamat Pagi Jajang (1979)
  5. Nyanyian Sepi (1995).

Karyanya yang berupa drama, antara lain:

  1. Lampu Neon (1963)
  2. Matahari di Sebuah Jalan Kecil (1963)
  3. Nenek Tercinta (1963)
  4. Prita Istri Kita (1967)
  5. Mega-mega (1967)
  6. Sepasang Pengantin (1968)
  7. Kapai-kapai (1970)
  8. Sumur Tanpa Dasar (1971)
  9. Kasir Kita (1972)
  10. Tengul (1973)
  11. Orkes Madun I atawa Madekur dan Tarkeni (1974)
  12. Umang-umang (1976)
  13. Sandek, Pemuda Pekerja (1979)
  14. Dalam Bayangan Tuhan atawa Interogasi I (1984)
  15. Ari-ari atawa Interogasi II (1986)
  16. Ozon atawa Orkes Madun IV (1989)

Karya Skenario dan penyutradaraan film dan sinetronnya, antara lain yang berupa film:

  1. Pemberang (1972)
  2. Rio Anakku (1973)
  3. Melawan Badai (1974)
  4. Petualang-petualang (1974)
  5. Suci Sang Primadona (1978)
  6. Harmoniku (1979)
  7. Serangan Fajar (1981)
  8. Penghianatan G30S/PKI (1983).

 

Demikian penjelasan mengenai sastrawan-sastrawan Indonesia yang paling populer. Gimana karib bahasa, sudahkan kalian mengenal sastrawan-sastrawan tersebut beserta karya-karyanya? Tulis pada kolom komentar yaa!! Untuk mengetahui info lainnya mengenai bahasa Indonesia, silakan klik di sini.

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *